Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Jakarta, 7 September 2008
Pekan pertama puasa sekaligus pekan pertama kuliah yang alhamdulillah sudah terlewati dengan baik. Bicara soal kuliah, jadi teringat kuliah kalkulus jumat kemaren yang dibawakan oleh Bu Kasiah, salah satu dosen pengajar Kalkulus di Fasilkom. Kemarin, kami semua mempelajari tentang Barisan dan Deret. Barisan adalah susunan suku2 yang memiliki urutan, dan topik yang kemarin dipelajari khusus barisan tak hingga. Ciri utama barisan tak hingga adalah tak memiliki suku akhir. Karakteristik barisan itu sendiri ada 2, yaitu menuju suatu nilai tertentu (konvergen) dan tidak menuju suatu nilai tertentu (divergen). Contoh sederhana suatu barisan yang konvergen adalah 5,1,4,3,2,2,2,2,… dan contoh sederhana dari suatu barisan yang divergen adalah 3,1,3,1,3,1,3,…
Ada yang menarik dari kedua karakteristik tersebut, terutama pada barisan yang konvergen. Jika dilihat polanya dan digambar grafiknya, maka barisan tersebut sangat mirip dengan kehidupan manusia. Pada suku2 awal, barisan tersebut seperti membentuk interval naik-turun dan lama kelamaan menuju suatu nilai konstan. Pada ilmu fisika, ada hukum Newton (maap, lupa hukum keberapa) yang intinya menyatakan kalau suatu benda cendrung akan menuju kondisi yang stabil (seimbang). Demikian juga kehidupan manusia, jarang sekali ada manusia yang nyaman dengan perubahan kondisi kehidupan yang berubah drastis (contoh: sekarang sukses, besoknya bangrut, besoknya sukses lagi, dst). Oleh karena itu, kehidupan manusia seakan berkarakteristik konvergen.
Konvergen dalam kehidupan manusia bisa diartikan menuju jalan yang lurus, atau bahasa bekennya “khusnul khotimah.” Ada sebuah statement yang menarik yang diucapkan Bu Kasian disela kuliahnya. “Sesungguhnya semua manusia memiliki konvergensi.” Sebuah statement yang membuat saya sangat kaget. Kalau semua manusia memiliki konvergensi, maka yang akan terjadi adalah semua manusia akan mati dalam keadaan yang sangat baik. Tapi faktanya, banyak orang2 yang mati dalam keadaan yang mengenaskan. “Namun..”, Bu Kasiah melanjutkan. “Yang membedakan manusia dengan barisan itu adalah batas. Barisan tadi dapat berkonvergensi dengan leluasa karena berupa barisan tak hingga, sedangkan kehidupan manusia memiliki sebuah kelemahan, yaitu batas. Keadaan tersebut dipercantik dengan fakta bahwa tiada seorangpun yang tau kapan manusia akan manemui batasnya. Oleh karena itu, bisa saja seorang manusia sudah menemui batas tersebut sebelum ia mencapai batas kestabilan.” Sungguh kata2 yang penuh makna dan sangat logis.
Ketika masih SMA, seorang guru pernah mengajarkan bahwa setiap manusia sudah ditentukan rizqi, jodoh, ajal, dsb. Sama seperti jika kita membuat objek pada OOP. Kita harus menentukan attribut2 objek tersebut dan kegunaan objek tersebut. Sesungguhnya dalam diri kita masing2 sudah terinstall daftar rizqi, jodoh, dan tanggal kematian kita, namun karena segala keterbatasannya, tak ada seorangpun yang bisa “meng-encode” data2 tersebut, sehingga tidak ada yang tau alur kehidupan yang akan dialami. Sungguh sebuah anugrah yang sangat besar. Coba bayangkan jika ada orang yang dapat meng-encode data tersebut dan tau bahwa usianya tidak lebih dari 1 tahun lagi. Apakah kira2 yang akan terjadi pada orang tersebut..?
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk sesegera mungkin menuju kondisi yang konvergen itu dan mempertahankannya, karena kita tidak tau berapa panjang lagi sumbu kehidupan yang tersisa sampai apinya meledakkan sebuah dinamit diujungnya.
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Mantabs kata-katanya bu kasiah.
Luar biasa.
Komentar oleh agungfirmansyah September 18, 2008 @ 8:09 amsabar bro… hihihihi
Komentar oleh mishbah September 24, 2008 @ 9:15 am