Gajimu Gajiku
Assalamu’alaykum…
Feel Alivee.!!! YEAH.!! Setelah sekian lama hibernasi. Padahal aslinya memang sedang malas mengisi blog. Hehehe…
Semester 6, sudah mau KP aja. Padahal masih ingin bersenang-senang lebih lama lagi di Kampus. Sepertinya waktu yang harus memaksa saya untuk belajar sedikit lebih bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Tentunya belajar mencari uang juga. Hehehe… Beberapa tahun yang lalu, saya sempat mendapatkan ilmu soal kaya begituan. Mungkin sudah saatnya saya share. Mumpung inget juga.
Percayakah bahwa lingkungan sekitar memberi pengaruh yang cukup besar pada kita?? Percaya ngga percaya, tapi terpaksa kali ini wajib kudu harus dipercaya dah. Bener..!! Kalo ngga, ga usah dilanjutkan bacanya. hehehe… (evil mode : on)
Dulu waktu kecil, saya pernah diajarkan sebuah hadist yang inti isinya (kalo ga salah), “jika kau berteman dengan seorang pandai besi, maka kau akan terkena baunya yang tak sedap. Sedangkan jika kau berteman dengan seorang tukang minyak wangi, maka kaupun akan terkena harumnya”. Yah, pokoknya gitulah. Teman sangat mempengaruhi kehidupan kita. Dalam dunia karir pun demikian. Pernahkah anda mendengar sebuah kalimat, “gajimu adalah gaji rata-rata dari lima orang terdekatmu.” ? Kalo saya sih pernah. Awalnya saya ngga percaya ketika diajarin ilmu tersebut. Maklum masih SMA. Masih lugu-lugunya. Tapi setelah menjalani kehidupan yang cukup keras sekarang ini, saya semakin yakin bahwa kalimat tersebut benar.
Mungkin kalo diliat-liat, sejak jaman sekolah dulu, kita udah terbiasa membuat semacam ‘gengster’ atau komunitas, ato apalah, yang intinya sebuah grup dimana biasanya jadi teman ngumpul bareng. Grup tersebut biasanya terbentuk atas dasar persamaan. Entah itu sama-sama bernasip jelek, sama-sama IP jongkok, sama-sama anak motor, sama-sama pecinta komik, atau apalah. Intinya gitu. Jadi ga heran kalo komunitas tersebut sangat mempengaruhi tingkah laku dan pola pikir bahkan hobi kita.
Dosen saya, Ibu Kasiyah, pernah berpesan, “sebisa mungkin kita harus bisa memposisikan diri kita diantara beberapa lingkaran, agar kita aman.” Nah, maksudnya adalah kalo kita berada diantara beberapa komunitas yang berbeda, maka kita akan memiliki pola pikir yang sangat luas ketimbang cuman ada di grup yang itu-itu aja. Ya ga sih?? Dengan begitu, pola pikir dan sudut pandang kita menjadi lebih luas dan kita jadi kaya akan inspirasi karena semakin banyak komunitas yang kita jelajahi, semakin banyak inspirasi yang bisa kita dapat. Itulah pentingnya bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Banyaknya lingkaran disekitar kita bisa kita analogikan sebagai barrier, yang bisa menahan kita dari bencana tsunami (widiiiiihh…!!). Maksudnya adalah, ketika kita diterjang sebuah problematika hidup yang ngga bisa kita pecahkan sendirian, maka kita tinggal masuk aja tuh ke benteng, minta bala bantuan. Kalo benteng yang satu ga cukup kuat, cari benteng tetangganya. Kalo masih jebol juga, masuk benteng tetangganya si tetangga. Terus gitu,sampe benteng terakhir. Kalo masih jebol juga, yaudah… emang nasip.
Eits, tapi ati-ati. Ga semua lingkaran-lingkaran itu “bener” lho. Kalo lingkaran yang kita masuki itu “lingkaran setan” bijimane?? kacau kan??? Saya ngga bermaksud nyuruh milih-milih komunitas, tapi kita harus bisa selektif dalam memilih komunitas. Jangan sampe komunitas yang kita masukin itu komunitas yang ‘ngga bener’. Sesuai hukum alam kan, hal yang baik dan hal yang buruk selalu ada berdampingan. Makanya, waspadalah..!! WASPADALAH.!!
*ditulis di ruang BEM ketika probter tlah tiada.