Warna Warni Kehidupan sebagai seorang mahasiswa
Hidup Mahasiswa yang penuh Warna
Sudah lama sekali tidak mengisi blog ini… Semoga tidak ditumbuhi lumut-lumut yang dapat mengganggu pemandangan. Karena jika ada lumut-lumut tersebut, tentu saja lumut tersebut berasal dari layar monitor anda. hehehe…
Saya teringat beberapa malam yang lalu. Ketika itu, saya baru pulang dari Kampus bundar (baca: Fasilkom). Di kamar kos, memang ada sebuah galon yang tentu saja fungsinya untuk menyimpan air minum. Namun ajaibnya, galon tersebut jarang sekali berisi air (bahkan hampir tidak pernah). Bukan karena letak kosan saja tidak ada tempat yang menjual air minum, tapi memang penghuninya saja yang malas.
Keadaan tersebut memaksa saya untuk membawa botol minum kosong. Biasanya saya membawa sebuah botol minum plastik dengan merk A*UA, atau merek lain yang tetap saja disebut AQ*A, ke Kampus untuk di isi di Musholla atau Ruang BEM. Sungguh naas, rencana tersebut terpaksa kandas kerana kedua tempat dimana saya biasa mengisi botol kosong ternyata kehabisan stok. Yah, tak apalah… Saya tetap positif thinking.
Pulang dari Kampus, sekitar pukul 23.00 Waktu Indonesia Bagian Depok, karena tas saya yang memang sedang berat, ditambah rasa lelah setelah seharian kuliah dan mengerjakan tugas, saya memutuskan untuk pulang dulu ke kosan sebelum mencari makan malam. Sesampainya di kosan, seperti biasa, galon masih tetap kosong dan tidak ada air yang layak untuk diminum. Saya bergegas masuk kamar, mengeluarkan isi tas yang memberatkan saya, dan memasukkan kembali sebuah botol kosong ke dalam tas lalu bergegas ke luar. Tentu teman satu kosan merasa heran kenapa saya yang baru saja sampai langsung bergegas pergi lagi dan membawa tas…
Sekitar 15 menit kemudian, mereka kembali terheran-heran melihat saya yang kembali lagi ke kosan dengan tampang seperti menang perang. Yang hebohnya lagi, tampang mereka yang berubah drastis ketika saya masuk kamar dan mengeluarkan botol pelastik bervolume 1 liter kosong yang tadi saya bawa kini telah terisi penuh. Yah, itulah… Saya memanfaatkan air minum gratis di warteg sebelah untuk mengisi botol minum saya FULL TANK.
Ada sebuah pengalaman yang cukup unik lagi terkait dengan botol minum. Entah kenapa saya lupa membawa botol minum kosong malam itu. Pulang dari Kampus dengan tas hampa. Cadangan air minum di Ruang BEM maupun di Musholla sudah habis. Termasuk isi kantong saya yang juga ikut habis tanpa alasan yang jelas. Karena alasan terakhir itulah saya jadi tidak punya alibi lagi untuk mengisi botol di warteg sebelah. Ya, tak mungkin lah saya datang ke warteg hanya untuk mengisi botol minum FULL TANK, terus pulang lagi tanpa basa-basi mesen makanan… Bisa dimasukkan dalam black-list saya.
Demi menjaga kesehatan (baca : menahan rasa haus dan lapar yang teramat sangat), saya memutuskan untuk langsung tidur saja sesampainya di kamar kos nanti. Sialnya, saya terbangun pada pukul 02.00 WIBD. Saya tidak tau pasti apa alasannya. Apakah karena lapar dan dahaga yang teramat sangat, atau mungkin karena panggilan alam karena malam itu ada pertandingan semifinal liga Champions. Walhasil, walau pertandingan sudah usai, rasa lapar dan dahaga itu tak kunjung hilang, parahnya lagi rasa kantuk juga tak kunjung datang. Terpaksa saya menahan siksaan batin tersebut dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya…
Saya akhirnya masuk kamar dan mengacak-acak kamar. Kali aja ada duit yang kelupaan saya ambil di kantong.. Ato berharap nemu duit di kolong ato laci meja, tapi ternyata nasib berkata lain. Harapan saya di-reject. (T___T). Saya kembali teringat kalo dulu saya pernah nyimpen sebuah celengan. Celengan dari kertas bekas pulsa berbentuk silinder hexagonal warna hijau, hadiah perpisahan dari sahabat lama saya diakhir masa SMA dulu sebelum dia pindah ke Jogja. Sejak awal masa kuliah, saya sering sekali mengisi celengan tersebut dengan koin pecahan 100 ato 200 perak. Kalo 500 sayang soalnya… YEAH..!! Cling Cling Cling... Dengan semangat kemerdekaan, saya mengobok-obok isi celengan tersebut dan mengumpulkan koin-koin hingga nilainya cukup untuk membeli sebotol air mineral. Untungnya, daerah KUTEK terdapat sebuah warung yang kerap disebut-sebut sebagai “warung kiamat” karena selalu buka 24 jam sehari dan 7 hari sepekan. Disebut sebagai “warung kiamat” mungkin karena warung tersebut baru akan tutup kalo kiamat tiba. XD
Yah, miris memang. Tapi itulah seluk beluk kehidupan saya sebagai mahasiswa, sebagai anak kos, sebagai warga negara yang baik, dan sebagai seorang manusia biasa yang absurd, dan percaya atau tidak saya cukup menikmati kehidupan tersebut karena berkat pengalaman-pengalaman tersebut, kehidupan saya jadi penuh warna, walaupun berwarna hitam, dan saya jadi punya hal yang bisa diceritakan ke anak cucu saya dimasa mendatang.